Cara melakukan Enema | Gurah Perut | Detoks Saluran Usus Besar

Cara Melakukan Enema Sebelum Operasi dan Untuk Kesehatan

manfaat enema cara melakukan enema detok perut dengan kopi enema set

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan berasal dari pengkajian data yang konkrit dari perawat.

Contoh – contoh diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan alternatif b.a.b :

1. Konstipasi yang berhubungan dengan barium.

2. Konstipasi yang berhubungan dengan immobilitas

3. Konstipasi yang berhubungan dengan trauma pada sumsum tulang belakang

Perencanaan

Tujuan utama klien dalam perencanaan/intervensi adalah :

1. mengerti tentang eleminasi yang normal

2. mengerti akan makanan dan cairan yang dibutuhkan secara wajar

3. memelihara integritas kulit

4. mengikuti program latihan secara teratur

5. memelihara kestabilan dalam pengeluaran BAB

6. mengerti tentang pengukuran untuk menghilangkan stress

Pedoman pemberian enema

1. Gunakan rectal tube dengan ukuran yang tepat, untuk orang dewasa biasanya no.22-30; anak-anak menggunakan tube yang kecil seperti no.12 untuk bayi; no.14-18 untuk anak todler atau anak usia sekolah.

2. Rectal tube harus licin dan fleksibel, dengan 1 atau 2 pembuka pada ujung dimana larutan mengalir. Biasanya terbuat dari karet atau plastik. Beberapa tube yang ujungnya tajam dan kasar seharusnya tidak digunakan, karena kemungkinan rusaknya membran mukosa pada rektum. Rectal tube dilumasi dengan jelly/pelumas untuk memudahkan pemasukannya dan mengurangi iritasi pada mukosa rektum.

3. Enema untuk orang dewasa biasanya diberikan pada suhu 40,5-43 0C, untuk anak-anak 37,7 0C. Beberapa retensi enema diberikan pada suhu 33 0C. Suhu yang tinggi bisa berbahaya untuk mukosa usus; suhu yang dingin tidak nyaman untuk klien dan dapat menyebabkan spasme pada otot spinkter.

4. Jumlah larutan yang diberikan tergantung pada jenis enema, usia dan ukuran tubuh klien dan jumlah cairan yang bisa disimpan :

a. bayi, ≥ 250ml

b. toddler atau preschool, 250 – 350 ml

c. anak usia sekolah, 300 – 500ml

d. adolescent, 500 – 750ml

e. adult, 750-1000ml

5. Ketika enema diberikan, klien biasanya mengambil posisi lateral kiri, sehingga kolon sigmoid berada di bawah rektum sehingga memudahkan pemasukan cairan. Selama high enema, klien mengubah posisinya dari lateral kiri ke dorsal recumbent, kemudian lateral kanan. Pada posisi ini seluruh kolon dijangkau oleh air.

6. Insesrsi tube tergantung pada usia dan ukuran klien. Pada orang dewasa, biasanya dimasukkan 7,5 – 10cm, pada anak-anak 5-7,5cm dan pada bayi hanya 2,5-3,75 cm. Jika obstruksi dianjurkan ketika tube dimasukkan, tube harus ditarik dan obstruksi terjadi.

7. Kekuatan aliran larutan ditentukan oleh :

a. tingginya wadah larutan

b. ukuran tube

c. kekentalan cairan

d. tekanan rektum

Enema pada sebagian orang dewasa, wadah larutan tidak boleh lebih tinggi dari 30cm di atas rektum. Selama high enema, wadah larutan biasanya 30-45cm di atas rektum, karena cairan dimasukkan lebih jauh untuk membersihkan seluruh usus. Untuk bayi, wadah larutan tidak boleh lebih dari 7,5 cm di atas rektum.

8. Waktu yang diperlukan untuk memasukkan enema sebagian besar tergantung pada jumlah cairan yang dimasukkan dan toleransi klien. Volume yang banyak seperti 1000ml, mungkin membutuhkan waktu 10-15 menit. Untuk membantu klien menahan larutan, perawat dapat menekan bokongnya, agar terjadi tekanan di luar area anal.

9. Ketika larutan enema berada di dalam tubuh, klien mungkin merasa gembung, dan rasa tidak nyaman pada abdomen.

10. Ketika klien b.a.b, perawat bisa membantunya ke kamar kecil, tergantung pada pilihan klien dan kondisi fisik.

11. Pada pemberian enema yang dilakukan sendiri, orang dewasa dapat diatur posisi litotomi.

12. Ketika pemberian enema pada bayi, kaki bayi bisa ditahan dengan popok.

Prosedur pemberian enema

Persiapan pasien

a.       Mengucapkan salam terapeutik

b.      Memperkenalkan diri

c.       Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang

d.      Prosedur dan tujuan  tindakan yang akan dilaksanakan.

e.       Membuat kontrak (waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan)

f.       Selama komunikasi digunakan bahasa yang jelas, sistematis serta tidak mengancam.

g.      Klien/keluarga diberi kesempatan bertanya untuk klarifikasi

h.      Menjaga privasi klien.

i.        Memperlihatkan kesabaran , penuh empati, sopan, dan perhatian serta respek selama berkomunikasi dan melakukan tindakan

j.        Pasien disiapkan dalam posisi yang sesuai

 

Peralatan

1. Disposible enema set

2. 1 set enema berisi

a. wadah untuk tempat larutan

b. pipa untuk menghubungkan wadah ke rectal tube

c. klem untuk menjepit pipa, untuk mengontrol aliran larutan ke pasien

d. rectal tube dengan ukuran yang tepat

e. pelumas yang digunakan untuk rectal tube sebelum dimasukkan

f. termometer untuk mengukur suhu larutan

g. sabun / garam.

h. sejumlah larutan yang dibutuhkan dengan suhu yang tepat. Larutan ditempatkan di wadahnya, diperiksa suhunya, kemudian menambahkan sabun / garam.

3. selimut mandi untuk menutupi klien

4. perlak agar tempat tidur tidak basah

5. bedpan.

Intervensi

1.      Tutup pintu/pasang sampiran (screen).

Rasional: memberikan privasi pada klien.

2.      Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.

Rasional: pencegahan terjadinya transmisi bakteri.

3.      Kaji kondisi anal dan deformitas.

Rasional: pengkajian merupakan tahap awal setiap prosedur yang akan memberikan informasi suatu tindakan dapat dilaksanakan atau tidak.

4.      Jelaskan prosedur kepada klien bahwa ia mungkin akan merasakan gembung ketika larutan dimasukkan.

Rasional: memberikan informasi dapat meningkatkan kesiapan dan kerjasama pasien selama proses tindakan enema berlangsung.

5.      Bantu klien orang dewasa atau usia toddle untuk mengambil posisi lateral kiri, dengan kali kanan fleksi dan beri selimut mandi.

Rasional: posisi ini memudahkan aliran larutan sesuai dengan gravitasi ke dalam sigmoid dan kolon descenden yang berada pada sisi kiri. Kaki kanan fleksi agar anus lebih tampak.

6.      Letakkan perlak di bawah bokong klien agar sprey tidak basah.

Rasional: merupakan tindakan preventif untuk menjaga kebersihan tempat tidur.

7.       Beri pelumas pada rectal tube 5cm jika untuk orang dewasa. Untuk anak-anak beberapa enema yang dijual sudah mempunyai tube yang sudah dilumasi.

Rasional: pelumas memudahkan masuknya tube melalui spinkter ani dan        meminimalisir trauma.

8.      Buka klem lewatkan beberapa larutan melalui pipa penghubung dan rectal tube, kemudian tutup klem.

Rasional: pipa diisi dengan larutan untuk mengeluarkan udara di dalamnya. Udara yang masukke dalam rektum menyebabkan peregangan yang tidak perlu.

9.      Masukkan rectal tube dengan lembut dan perlahan ke dalam rektum, tujukan ke unbilikus. Masukkan tube dengan jarak yang tepat.

Rasional: pemasukan pipa k eumbilikus memandu opipa di sepanjang rektum. Rectal tube dimasukkan melewati spinkter internal

10.  Jika terjadi tahanan di spinkter internal, suruh klien untuk bernapas dalam dan lewatkan sedikit larutan melalui pipa. Jika tahanan berlangsung lama, tarik pipa dan laporkan pada perawat yang bertanggung jawab

Rasional: bernapas dalam dan memasukkan sedikit larutan bisa membuat spinkter rileks.

11.  Jika tidak ada tahanan, buka klem dan angkat wadah larutan ke atas rektum pada ketinggian yang tepat ; 30-45cm untuk dewasa dan 7,5 untuk bayi

Rasional: pada ketinggian ini, larutan tidak mendesak tekanan yang cukup untuk mengganti kerusakan lapisan pada rektum

11. Masukkan cairan dengan perlahan. Jika klien mengeluh merasa gembung atau nyeri, gunakan klem untuk menghentikan aliran selama 30 detik, kaji warna kulit, keringat, dyspnoe. Jika tidak dijupai kelainan buka kembali alirannya dengan kecepatan yang rendah.

Rasional: memasukkan cairan dengan perlahan dan menghentikan aliran untuk sementara menurunkan kemungkinan spasme intestinal dan pengeluaran yang dini pada larutan.

13. Setelah semua larutan dimasukkan atau ketika klien tidak bisa menerima lagi dan ingin b.a.b, tutup klem dan keluarkan rectal tube dari anus

Rasional: keinginan untuk b.a.b biasanya mengindikasikan bahwa cairan yang masuk sudah cukup

14. Gunakan tekanan yang tetap pada anus dengan tissu atau tekan bokong untuk membantu menahan enema. Biarkan klien dalam posisi berbaring.

Rasional: beberapa enema lebih efektif jika ditahan 5-10 menit. Waktunya tergantung pada jenis enema. Klien lebih mudah menahannya pada posisi berbaring daripada ketika duduk atau berdiri, karena gravitasi membantu pengaliran peristaltik.

15. Bantu klien untuk duduk pada bedpan atau toilet. Jika spesimen feses dibutuhkan anjurkan klien menggunakan bedpan

Rasional: posisi duduk lebih dianjurkan karen amembantu proses defekasi

16. Suruh klien agar tidak menyiram toilet jika ia selesai menggunakannya.

Rasional: untuk mengevaluasi output/keberhasilan tindakan enema

17. Catat pemasukan dan pengeluaran enema; jumlah, warna, konsistensi, pengeluaran flatus dan perenggangan abdomen.

Rasional: Pencatatan merupakan aspek legal sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat.

Pemberian enema pada pasien yang tidak bisa mengontrol diri

Kadang-kadang perawat perlu memberikan enema untuk klien yang tidak bisa mengontrol otot spinkter externalnya dan lalu tidak bisa menahan larutan enema untuk beberapa menit. Pada kasus ini klien dianjurkan pada posisi supine di atas bedpan. Bagian kepala dari bedpan bisa sedikit disudut, misal 30 derajat jika perlu, dan kepala dan punggung klien ditahan dengan guling. Perawat mengenakan sarung tangan untuk memegang rectal tube, untuk mencegah kontak langsugn dengan larutan dan feses yagn dikeluarkan dengan tangan ke dalam bedpan selama pemberian enema.

Hal-hal yang perlu diperhatikan

Penggunaan enema yang tidak benar dapat menyebabkan tergangguanya keseimbangan elektrolit tubuh (pemberian enema berulang) atau perlukaan pada jaringan kolon atau rektum hingga terjadinya perdarahan bagian dalam. Perlukaan ini dapat menyebabkan terjadinya infeksi, perdarahan dalam kolon terkadang tidak nampak secara nyata tetapi dapat diketahui melalui perubahan warna feces menjadi merah atau kehitaman. Jika terdapat tanda ini maka diperlukan tindakan medis dengan segera.

Tindakan enema juga dapat merangsang nervus vagus yang memicu terjadinya arritmia misalnya bradikardi. Tindakan enema tidak dapat diberikan selagi adanya nyeri perut yang belum diketahui penyebabnya, peristaltik usus dapat menyebabkan peradangan apendiks hingga pecahnya apendiks.

IMPLEMENTASI

1.      Mengkaji pola defekasi klien

2.      Mengkaji pola makanan dan cairan klien

3.      Mengkaji kondisi anal dan deformitas klien

4.      Menjelaskan prosedur dan tahapan – tahapan pada pemberian enema pada klien

5.      Menjelaskan tujuan dan manfaat pemberian enema pada klien

6.      Memberikan tindakan enema.

EVALUASI

Klien akan :

  • Menetapkan waktu yang teratur untuk defekasi
  • Berpartisipasi dalam program latihan yang teratur
  • Memakan makanan sesuai dengan diet yang ditentukan
  • B.A.B dengan nyaman dan lancar
  • Minum + 2000 ml cairan / hari
  • Tidak terjadi defekasi pada saat dilakukan tindakan operasi
  • Sukses pada pemeriksaan diagnostic radiologi

About tigaputraperkasa

Owner www.TokoIslam.com dan www.ApotekHerbal.com
This entry was posted in Artikel Kesehatan, Tentang Enema and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s